|
Beberapa hari telah berlalu, tepatnya 14 hari sudah
aku menjalani LDR dengan seseorang yang kusebut pacar. Mulanya sangat tidak
biasa sekali, tidak bisa ku sembunyikan. Tiap kali ku ingat dia dapat
dipastikan air mataku akan dengan mudah menetes, bahkan sampai detik ini. Aku
masih tetap sama. Masih saja cengeng. Ntahlah apa yang terjadi dengan diriku
sekarang. Perasaan itu tidak bisa ku tahan. Tiap kali aku menerima sms nya,
rasanya benar – benar tidak kuasa menahan aliran air mata. Apalagi ketika kata –
kata yang sangat ku harapkan dikirim untukku rasanya, benar – benar tidak bisa
diungkapkan. Percaya atau tidak kadang sambil sesenggukkan sendiri aku menulis
sms untuknya ketika kita sedang sms an. Mungkin jika ada orang yang tahu mereka
akan tertawa mencibir atau turut prihatin. Tapi aku tidak akan peduli dengan
kata – kata mereka. Ceritanya begini,
Waktu itu masih 10 harian aku ditinggal dia, aku kan
anak kos, tentu saja mereka satu kosan tau kalau aku baru saja ditinggal dia
pergi merantau ke daerah lain untuk meniti karir, malu atau tidak malu aku
sering kali ketahuan ketika sedang berlinang air mata, apa lagi ketika mereka
berbicara mengejek, walaupun aku tahu mereka hanya bercanda, memang dasarny aku
yang cengeng tetap saja menangis. Ada temanku yang mengatakan “ LDR kepanjangan
dari Lak Ditinggal Rabi atau Lo Ditinggal rabbi Rekk “ atau dalam bahasa
Indonesia artinya Lo ditinggal menikah ... mungkin terdengar biasa saja, tapi
itu sangat menyayat hati bagi ku. Bagiku yang benar – benar menginginkanny dengan
kondisi yang tidak fit saat itu. kemudian malamnya temanku juga mengatakan
bahwa LDR itu sulit, jika tidak kuat pasti selingkuh, kamu masih 10 hari saja
sudah nangis kayak gitu karena kangen, apalagi sudah 1 tahun, pasti kangennya
memuncak dan akhirnya selingkuh “ coba bayangkan saja disaat posisiku sedang
sekarat karena rindu dan sedih dan ada yang mengatakan yang seperti itu, ya
Tuhan rasanya tidak bisa kuungkapkan, aku hanya tersenyum saja sambil berkata “
iya kah ? aku harap tidak dengan dia “. Dan malamnya ketika aku sedang
berkomunikasi dengan dia yang ku sayang, aku sedikit agak lebih tenang . ketika
dia mengatakan “ kadang sahabat terdekat
pun tidak akan bisa merasakan apa yang kita rasakan “
Kata – kata itu seperti menjadi cambuk untukku, aku
mulai berpikir dan berlogika tentang apa yang kekasihku ucapkan. Benar
kawan, kata – kata itu “ tidak ada yang pernah bisa merasakan persis
sama seperti apa yang kita rasakan, meskipun kadangkala mereka mengatakan ‘aku
mengerti apa yang kamu rasakan, atau aku juga pernah merasakan apa yang kamu
rasakan’. Semua kata kata itu, Tuhan. Aku percaya semua manusia memiiliki sifat
, karakter, kemampuan, keahlian,tubuh, lahir, batin, kelemahan, kelebihan yang
berbeda antara satu sama lain, apalagi masalah hati dan emosi pasti akan
berbeda. Yang dirasakan mereka tidak akan pernah sama seperti apa yang kita
rasakan, pasti berbeda karena kita, aku dan kamu, aku dan dia, aku dan mereka
adalah berbeda. Kita dilahirkan berbeda antara satu satu sama lain agar kita
mampu membaca apa yang seharusnya kita baca termasuk tanda –tanda kebesaran
Tuhan. Kita berbeda agar kita mampu saling melengkapi satu sama lain. Tidak ada
yang benar – benar persis sama, manusia yang kembarpun pasti juga memiliki
perbedaan walaupun sangat kecil.”
Kata – kata selalu ku pegang, kata kata yang
mempunyai arti yang sangat luas, Tuhan terimakasih telah mempertemukanku
dengannya, dengan seseorang yang tengah berada di daerah lain, yang kini sedang
berusaha untuk mencari karuniaMu, semoga kami senantiasa Engkau beri keimanan,
senantiasa Engkau beri keteguhan hati untuk selalu mengasihi satu sama lain
sampai waktu yang tidak ditentukan. Dapat selalu menjaga hati dan pikiran untuk
saling menyayangi satau sama lain meskipun kami tidak berada saling berdekatan.
Ijinkan kami untuk menunaikan sunnah RasulMu sampai akhir yang tidak ditentukan
karena hamba dia yang menjadi suratan takdir untuk hamba kelak. Amin.