Apa Bedanya Pacaran SEBELUM dan SESUDAH Bekerja ?


Apa Bedanya Pacaran SEBELUM dan SESUDAH Bekerja ?
Mungkin banyak yang bertanya apa bedanya pacaran dengan pasangan sebelum dan setelah bekerja ? mungkin ada sebagian yang tahu baik menurut sumber atau pengalaman sendiri. Kebetulan aku menjadi salah satu dari alasan di atas, yaitu pengalaman sendiri yang ditunjang dengan sumber dari pihak lain.
Mulanya pasti kaget dengan situasi yang  berbeda dengan saat pacaran ketika dia belum bekerja, dimana banyak dari waktunya tercurahkan untuk kita. Saat itu dia masih kuliah, sama sepertiku yang saat ini masih menempuh pendidikan strata 1 di salah satu universitas negeri di pulau Jawa. Aku dan dia berbeda angkatan, aku berada 2 tahun di bawahnya. Aku bahagia, karena memang seperti itu yang kuharapkan, mencari laki – laki yang lebih tua dari pada aku. Pertimbanganku saat itu adalah, ketika aku memiliki pasangan yang lebih tua harapanku dia bisa menjadi lebih dewasa daripada aku, bisa mengayomi dan membimbingku ke arah yang lebih baik. Bukan berarti aku tidak mau dengan yang sebaya, karena menurutku pola pikir dengan pasangan yang sebaya adalah sama, bisa jadi yang lebih dewasa adalah pasangan wanitanya, karena menurut yang ku ketahui wanita lebih cepat dewasa daripada laki laki baik dari fisik maupun non fisik. Itulah sebabnya aku berharap bisa menemukan dia yang ku impikan, dan ternyata harapanku menjadi kenyataan, puji syukur aku menemukan dia yang lebih tua daripada aku untuk angkatan sekolahnya. Meskipun usia kami tidak berbeda jauh dan dapat katakan sama tapi pola pikirnya lebih dewasa daripada aku, mungkin karena lingkungannya yang lebih tua daripada dia sehingga mempengaruhi pola pikirnya. Tapi aku tetap bersyukur dan bahagia memilikinya di sisiku saat ini, meskipun kami tidak bersama untuk sementara ini, meskipun kami berada di tempat yang berbeda saat ini, di tempat yang lumayan jauh dan berbeda pulau, meskipun begitu aku tetap bersyukur karena kami masih berada di satu negara Indonesia tercinta, bukan di beda negara atau di beda alam parahnya.
Kami masih bisa berkomunikasi dengan normal, meskipun tidak seperti dulu.
Dulu ketika dia masih kuliah, kemana kemana seringkali berengan, makan, jalan – jalan atau sekedar bertegur sapa melepas rindu dalam waktu luang di beranda kosan. Tapi sekarang sudah tidak, kalau dulu kemana – mana sering diantar kalau sekarang tidak, kalau dulu kuliah sering dijemput sekarang tidak, kalau dulu kangen tinggal bilang dan langsung menuju ke kosan, sekarang tidak, sekarang hampir 1800 berbalikan dengan masa dulu, harus pergi ke kampus sendiri, harus makan sendiri, kemana – mana sendiri, pulang nyetir sendiri, kangen, kangen sendiri,. Kalau kangen dulu tinggal telpon atau sms, dia sering kali meluncur ke kosan kalau sekarang harus ditahan dulu, ditahan apakah dia sedang istirahat atau tidak, harus ditahan ketika menunggu untuk balesan sms saja lamanya minta ampun kadang – kadang, harus ditahan ketika ingin bertemu sekarang mesti ngeliatin fotonya saja, ditahan ketika ingin mendengarkan suaranya langsing tapi  kini hanya lewat telepon. Semuanya harus serba ditahan ingin berkomunikasi lebih lama lewat telepon, tapi kini berbeda pembagian waktu harus saling mengerti di sini jam berapa di sana jam berapa. Semuanya harus ditahan, harus sabar, harus tabah. Tapi aku masih beruntung dan harus lebih bersyukur karena kami masih satu negara, kadang aku berpikir beruntungnya aku masih dipisahkan dengan wilayah bukan dengan alam. Aku melihat mereka yang telah berpisah alam, yang tidak bisa berkomunikasi sama sekali, aku beruntung dan harus bersyukur masih bisa mendengar kabar, mendengar suaraya atau melihatnya lewat alat komunikasi. Terimakasih Tuhan. J
tapi kadang – kadang tetap saja namanya manusia, aku juga seringkali mengeluh kepada diriku sendiri, seringkali berbicara kepada diriku sendiri. Kenapa mesti LDR an seperti saat ini. Apalagi ditambah dia telah bekerja, jelas perhatian semakin berkurang dan berbeda dari dulu, aish itu pikiran jahatku. Tapi kadang – kadang saat pikiran baikku muncul aku selalu bersyukur, beruntungnya aku memiliki dia, beruntungnya aku memilikinya yang kini telah berpenghasilan, melihat diluar sana tidak kurang dari 3 juta sarjana yang menganggur. Mungkin banyak berubah, dulunya yang perhatian, hampir separuh lebih waktu dalam sehari kami tidak berhenti berkomunikasi baik lewat sms, telepon atau bertemu langsung, tapi sekarang berubah 180 derajat. Aku harus lebih mengerti posisinya sekarang ini.
Memang berbeda pacaran saat sebelum dan setelah bekerja. Percaya atau tidak masing masing dari kita harus saling memahami satu sama lain, apalagi pasangan kita sedang berada di lingkungan yang berbeda dari sebelumnya, adaptasi perlu. Aku ini pecemburu ulung, ntahlah apa yang terjadi pada pikiranku, kadang aku takut sendiri ketika melihat dia dengan wanita lain, walaupun kenyataanya dulu tidak pernah, pernah sih tapi aku tidak terlalu cemburu karena aku kenal dengan teman perempuannya. Karena teman perempuannya adalah temanku juga :D tapi seringkali aku cemburu kalau dia kenal dengan wanita baru. Bayangkan saja perempuan mana yang tidak cemburu kalau pasangannya dengan wanita lain, apalagi wanitanya lebih cantik, bisa dandan, feminim, dan yang paling penting yang kita tahu, siapa si yang tidak tahu “ tresno jalaran soko kulino “ ? yang artinya cinta itu datang karena kebiasaan. Yes all right, aku benar – benar takut dengan hal itu, secara kalu wanita yang sudah bekerja pasti lebih bisa merawat diri, sedangkan aku ? aku bukan termasuk perempuan yang suka berhias diri, ya tampil apa adanya saja, paling hanya bermodalkan pelembab, bedak yang tipis, maskara tipis dan sedikit pemoles bibir, simple kan ? kalau dibanding dengan mereka yang ber make up lengkap ? wallahuaa’lam. Terus aku harus gimana ?
Aku harus lebih baik dari yang kemarin, walaupun sebenarnya mengharap lebih.
Aku percaya pada Tuhan, jodoh tidak akan kemana, bukankah itu sudah termasuk dalam takdir Tuhan ?  aku percaya, dan masih selalu berharap bahwa dia yang menjadi pendamping hidupku kelak. Amin. Meskipun disisi lain aku selalu berpikir keras dengan apa yang saat ini terjadi. Sering kali aku memikirkan masa depan. Ntahlaah kadang aku bingung sendiri, ketika dihadapkan pada cita citaku, pada kondisi saat ini dan pandangan di masa depan tentang dia, jarak yang harus aku tempuh ketika cita – citaku berhasil tercapai antara rumah dan kantor, jarak yang harus dia tempuh antara rumah dan kantor meskipun aku bersedia pindah kesana, aku masih selalu berpikir, bagaimana jika nanti aku telah memiliki seorang anak, jarak antara kantorku dengan rumahku kelak, aku masih berpikir keras. Tapi berusaha meredamnya, Tuhan pasti punya rencana lain yang lebih indah dan lebih baik, bukankah setelah kesulitan pasti ada kemudahan ?
Aku harus menyadari apa yang harus aku lakukan saat ini, melakukan yang terbaik sebisa mungkin untuk menggapai mimpiku, garam di laut asam di gunung, akhirnya bertemu di belanga, aku berharap aku dan dia bisa menjadi satu yang utuh, bisa hidup bersama bukan hanya di alam dunia. amin
Semangat, semangat, semangat J
0 Responses